Masih ingat kasus yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari? Mungkin kasus tersebut adala kasus yang berkaitan dengan pengendalian sosial dan penyimpangan sosial yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kasus tertentu, polisi harus bertindak secara tegas terhadap setiap pelaku yang ada dan terlibat di dalamnya. Ketegasan polisi sendiri dimaksudkan untuk menegakkan hukum demi terciptanya rasa maan serta tertib di dalam kalangan masyarakat. Jika terciptanya. Ketertiban, maka kehidupan sosial akan jauh lebih baik.
Bersosial / Bermasyarakat yang ada © Gambar oleh OpenClipart-Vectors dari Pixabay / Masyarakat |
Dalam artikel ini kita akan membahas cara-cara yang dilakukan untuk melakukan pengendalian sosial di dalam lingkungan, khususnya dalam hal ini, bagaimana kita harus menerapkan pengendalian sosial ini dengan baik. Jika pengendalian sosial berjalan dengan baik dan teratur. Jika pengendalian bisa berjalan dengan teratur dan terarah dengan baik, maka dapat dikatakan, kehidupan bersosial pun akan berjalan dengan sangat baik mengingat pengendalian sosial berjalan dengan baik juga. Jika pengendalian sosial dapat berjalan dengan baik, maka jalannya suatu kehidupan akan berjalan dengan baik pula sekaligus dapat membawa masyarakat untuk lebih tertib. Oleh sebab itu bagaimana cara-cara untuk melakukan pengendalian sosial?
Apakah itu Pengendalian Sosial?
Pengendalian sosial adalah salah satu bagian di dalam kehidupan yang dipakai untuk mengatur jalannya kehidupan masyarakat jika terjadinya ketidak tertiban dalam masyarakat. Pengendalian sosial adalah upaya secara sadar untuk menertibkan keadaan sosial yang semakin menyimpang sosial sesuatu yang membawa hal-hal tersebut tidak baik. Oleh sebab itu berikut beberapa cara pengendalian sosial yang terjadi dan perlu kita perbaiki. Dan dalam perbaikan kehidupan yang menyimpang sosial.
Pengendalian sosial sendiri tidak boleh disamakan dengan pengendalian diri. Pengendalian diri mengarahkan kepada diri sendiri, sedangkan pengendalian sosial sendiri mengarahkan kepada pihak lain. Pengendalian sosial dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, baik secara formal maupun secara nonformal. Ada pengendalian yang terencana maupun ada pengendalian yang tidak terencana. Mekanisme pengendalian sendiri bersifat mengawasi, mengajari, mendidik, membujuk dan memaksa individu agar menyesuaikan diri dengan nilai maupun norma sosial.[1]
Cara Pengendalian Sosial
Supaya terciptanya ketertiban sosial, masyarakat perlu menyikapi berbagai perilaku menyimpang di masyarakat. Upaya ini sangat penting untuk mengembalikan kondisi masyarakat itu sendiri dapat dilakukan dengan beberapa cara. Sebagai berikut :
A. Pengendalian Sosial melalui Sosialisasi
Perilaku orang yang dikendalikan dengan mensosialisasikan peran yang sesuai dengan yang diharapkan. Hal tersebut penting dilakukan untuk menciptakan kebiasaan, keinginan, dan adat istiadat yang sama. Oleh karena itu, mereka cenderung menjadi alat ukur yang baik bagi perilaku seseorang dalam sebuah kelompok. Sosialisasi sendiri adalah pembentukan kepribadian, maka jika mendapatkan sosialisasi yang sama, maka kepribadian suatu kelompok akan sama. Bahkan melalui sosialisasi, seseorang menginternalisasikan (menghayati) norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat. Sehingga melalui sosialisasi, maka mereka yang ingin melanggar akan tercegah dengan sendirinya dan akhirnya kehidupan bisa terkendali dengan baik.[2]
B. Pengendalian Sosial melalui Tekanan Sosial
Lapierre (1954) melihat pengendalian sosial terutama sebagai suatu proses yang lahir dari kebutuhan individu akan penerimaan kelompok. Ia mengatakan bahwa kelompok akan sangat berpengaruh jika anggotanya sedikit dan akrab, jika kita ingin tetap berada dalam kelompok itu untuk jangka waktu lama, dan kita sering berhubungan dengan para anggota kelompok tersebut. Kebutuhan manusia akan penerimaan kelompok merupakan alat penunjang yang paling hebat yang dapat dipakai untuk menerapkan keinginan kelompok demi pengejawantahan norma-norma kelompok.[3] Sehingga dalam tekanan sosial ini sendiri, pengendalian sosial akan berjalan dengan baik.
.
Pengendalian kelompok dibedakan sebagai berikut :
1. Pengendalian Kelompok yang Informal Primer
Pengendalian dalam kelompok primer terjadi secara informal, spontan, dan tanpa direncanakan. Para anggota kelompok bereaksi terhadap perilaku sesamanya. Bilamana seorang anggota kelompok menyakiti atau menyinggung perasaan anggota lainnya, maka mereka itu mungkin akan menunjukkan perassan ketidaksenangannya dengan jalan mengejek, menertawai, mengkritik, atau bahkan menyisihkan anggota tersebut dari pergaulan. Apabila perilaku seorang anggota menyenangkan, maka imbalan yang biasa diterimanya adalah perasaan diterima yang menyenangkan.[4] Manusia normal di mana saja memerlukan upaya untuk memperoleh pengakuan dari orang lain, terutama dari orang-orang yang termasuk dalam kelompok primer, dimana kelompok primer memberikan keintiman manusiawi.[5]
2. Pengendalian Kelompok Sekunder
Kelompok sekunder pada umumnya lebih besar, lebih impersonal, dan mempunyai tujuan yang khusus. Kita tidak menggunakan kelompok ini untuk memenuhi kebutuhan kita akan hubungan yang intim dan manusiawi. Tetapi kita membutuhkannya untuk membantu, menyelesaikan suatu pekerjaan. Pengendalian formal merupakan ciri-ciri yang dimiliki oleh kelompok sekunder, misalnya peraturan resmi dan tata cara yang distandarisasi; propaganda maupun hubungan masyarakat, rekayasa masyarakat, kenaikan golongan, atau pangkat dan lain sebagainya secara formal namun sekunder di luar interaksi dari dalam.
C. Pengendalian Sosial melalui Kekuatan
Pada masyarakat yang memiliki penduduk dalam jumlah yang besar dan kebudayaan yang lebih kompleks diperlukan pemerintahan formal, peraturan hukum, dan pelaksanaan hukuman. Apabila seseorang tidak mau menaati peraturan, maka kelompok akan mencoba memaksanya untuk taat pada peraturan tersebut. Namun pada kelompok yang besar, keberadaan individu terlalu sulit untuk dapat dikendalikan oleh tekanan kelompok secara informal. Itulah sebabnya masyarakat konvensional sendiri kadang-kadang menjadi kekuatan dalam terciptanya kadar suatu pengendalian sosial yang diperlukan. Namun kekuatan ini sendiri tidak harus selalu berhasil, tetapi bisa dipergunakan di dalam masyarakat yang kompleks.[6] Oleh sebab itu, pengaruh kekuatan dari masyarakat misalnya akan menjadi pengendali sosial yang sangat juga bisa dikendalikan oleh lingkungan masyarakat maupun kekuatan yang mempengaruhi tersebut.
Selain beberapa hal di atas sendiri, agar warga dapat berperilaku yang sesuai dengan lingkungan masyarakat dengan norma sosial. Koentjaraningrat[7] juga menyarankan beberapa hal yang bisa ditempuh, antara lain :
Pertama, dengan mempertebal keyakinan para warga masyarakat akan kebaikan adat-istiadat yang ada. Jika warga yakin akan kelebihan yang sedang terkandung dalam aturan sosial yang berlaku, maka dengan rela warga akan mematuhi aturan tersebut.
Kedua, dengan memberikan sebuah ganjaran agar warga masyarakat dapat membiasakan diri untuk taat. Pemberian ganjaran ini melambangkan sebuah penghargaan atas tindakan yang telah dilakukan oleh seorang individu, selanjutkan individu akan termotivasi untuk mengulangi tindakan tersebut.
Ketiga mengembangkan rasa malu yang ada didalam jiwa masyarakat yang menyeleweng dari adat-isdiatas individu yang telah menyimpang dari aturan dihukum agar jera serta tidak mengulanginya kembali.
Keempat, Mengembangkan rasa takut dalam jiwa warga masyarakat yang hendak menyeleweng dari adat isdiatas dengan berbagai ancaman dan kekuasaan. Rasa takut yang timbul dari pengalaman individu setelah dikenai sanksi atau dari pengamatan terhadap penerapan dari sanksi atas orang lain .Rasa takut sendiri mencegah individu untuk melakukan pelanggaran aturan itu sendiri.
Kesimpulan
Berbagai cara sangat penting untuk melakukan pengendalian sosial. Pengendalian sosial sendiri sangat penting karena di dalam pengendalian sosial adalah sesuatu yang bisa membawa orang-orang untuk mengenal bagaimana mengendalikan orang-orang secara sosial jika mereka ingin membawa kehidupan sosial jauh lebih tertata dan terkendali dengan baik. Pengendalian sosial sangat penting karena di dalam pengendalian sosial bisa membawa orang-orang untuk tertib dan taat di dalam masyarakat sosial. Dengan kehidupan yang dikendalikan secara sosial sekaligus membawa orang-orang untuk tetap tertib, maka pengendalian sosial sangat penting agar tidak terjadi penyimpangan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Apakah dirimu juga ingin membawa ketertiban dan ketaatan di dalam masyarakat?
Sumber Referensi :
Joko Sri Sukardi dan Arif Rohman, Sosiologi untuk SMA Kelas X, (Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan, 2009), 146 – 148
Suhardi dan Sri Sunarti, Sosiologi 1 : Untuk SMA/MA Kelas X Program IPS, (Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2005), 144
------
[1] Suhardi dan Sri Sunarti, Sosiologi 1 : Untuk SMA/MA Kelas X Program IPS, (Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2005), 144
[2] Joko Sri Sukardi dan Arif Rohman, Sosiologi untuk SMA Kelas X, (Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan, 2009), 146
[3] Ibid, 146
[4] Ibid, 147
[5] Ibid, 146 - 147
[6] Ibid, 147
[7] Ibid, 147 - 148
Tinggalkan Komentar di bawah ini
EmoticonEmoticon