Pengendalian sosial adalah bagian terpenting di dalam kehidupan bersosial. Khususnya dalam pencegahan terhadap hal-hal yang tidak baik seperti penyimpangan sosial sekaligus hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial yang tidak baik. Jika ada kehidupan yang tidak tertib dan tidak taat. Kehidupan yang taat inilah adalah sesuatu yang diidam-idamkan bagi setiap orang pada umumnya.
![]() |
Guru Sedang mengajar © news.okezone.com |
Sehingga dalam artikel ini kita akan membahas mengenai bentuk-bentuk dari pengendalian sosial itu sendiri. Dimana kita akan membahas bentuk-bentuk dari pengendalian sosial itu sendiri yang terjadi di dalam pengendalian sosial. Apakah itu bentuk-bentuk tersebut kenapa bentuk-bentuk tersebut bagian terpenting dan terbaik di dalam pengendalian sosial?
Apakah itu Pengendalian Sosial
Pengendalian sosial adalah salah satu hal terpenting di dalam sosiologi khususnya dalam kehidupan bersosial. Pengendalian sosial sendiri tidak boleh disamakan dengan pengendalian diri. Pengendalian diri mengarahkan kepada diri sendiri, sedangkan pengendalian sosial mengarahkan kepada pihak lain. Pengendalian sosial dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, baik secara formal maupun secara nonformal. Ada pengendalian yang terencana, ada pula yang tidak. Mekanisme pengendalian bersifat mengawasi, mengajari, mendidik, membujuk, dan memaksa individu agar menyesuaikan diri dengan nilai dan norma sosial.[1]
Sementara Roucek sendiri (1965) memberikan pengertian bahwa pengendalian sosial merupakan suatu istilah kolektif yang mecau pada proses terencana atau tidak untuk mengajar individu agar dapat melakukan sesuatu atau menyesuaikan diri terhadap kehidupan atau kebiasaan dan nilai kelompok tempat mereka tinggal. Sehingga pengendalian sosial sendiri condong kepada pengendalian yang secara kolektif di dalam kehidupan sosial.
Menurut Soerjono Soekanto (1981) yang dimaksud pengendalian sosial adalah suatu proses baik yang direncanakan maupun tidak direncanakan yang tujuannya mengajak, membimbing atau bahkan memaksa warga masyarakat untuk mematuhi nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang sedang berlaku.[2] Sehingga pengendalian sosial ini adalah proses pengembalian dan yang direncanakan untuk mengajak mereka kembali dengan sikap yang baik.
Sehingga setidaknya dalam hal ini, kita memahami pentingnya pengendalian sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya di dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat. Dan dalam artinya kontrol / pengendalian sosial adalah salah satu hal terpenting dalam kehidupan bersosial. Dimana masyarakat yang akan menjalankan kehidupan yang tidak benar akhirnya bisa tertib dan taat akan aturan.
Bentuk-Bentuk Kontrol Sosial
Kontrol atau Pengendalian Sosial mengacu kepada berbagai alat yang digunakan dalam suatu masyarakat untuk mengembalikan anggota-anggota yang kepala batu ke dalam relnya. Tidak ada masyarakat yang bisa berjalan tanpa adanya kontrol sosial.[3]
Bentuk-bentuk dari kontrol sosial atau cara-cara pemaksaan konformitas relatif beragam. Cara pengendalian masyarakat dapat dijalankan dengan cara persuasif atau dengan cara koersif. Cara persuasif terjadi apabila pengendalian sosial ditekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing sedangkan cara koersif tekanan diletakkan pada kekerasan dan ancaman dengan menggunakan dan mengandalkan serangan fisik. Soekanto sendiri mengungkapkan cara mana yang lebih baik senantiasa tergantung pada situasi yang dihadapi dan tujuan yang hendak dicapai, maupun jangka waktu yang dikehendaki.[4]
Metode kontrol sosial sendiri bervariasi menurut tujuan dan sifat dari kelompok yang bersangkutan. Di samping berbagai mekanisme seperti desas-desus, mengolok-olok, mengucilkan, menyakiti, bentuk pengendalian sosial sendiri dapat berupa ideologi, bahasa, seni, rekreasi, organisasi rahasia, cara-cara tanpa kekerasan, bahkan kekerasan dan tenor, pengendalian ekonomi, perencanaan ekonomi bahkan sosial. Setiap berbagai metode bisa dipakai dalam mengendalikan sosial seseorang.[5]
Berdasarkan sifatnya sendiri, setidaknya ada dua macam kelompok masyarakat, yaitu kelompok primer yang bersifat akrab dan informal, misalnya keluarga, teman sepermainan, dan kelompok sekunder yang bersifat formal, yakni organisasi formal (OSIS, Koptri, PGRI),. Cara Pengendalian sosial sendiri disesuaikan dengan sifat masyarakat yang menjadi sasaran pengendalian. Untuk lempok masyarakat primer sendiri dapat dengan cara informal, spontan, serta tidak direncanakan. Sedangkan dalam kelompok sosial yang formal diperlukan beberapa cara atau tahapan yang baik.[6] Bentuk-bentuk Pengendalian Sosial Sebagai berikut :
1. Gosip / Gunjingan
Gosip adalah membicarakan seseorang tanpa sepengetahuan orang tersebut. Pada umumnya sendiri, bahwa hal-hal yang dinilai dan diperbaiki di dalam gosip adalah hal yang kurang pantas menurut kacamata secara umum. Pada suatu hal tertentu, gosip sendiri dapat mengoreksi seseorang dan perilaku seseorang. Pada dasarnya gosip sendiri adalah upaya orang lain memperhatikan perilaku kita. Apakah sudah sesuai dengan harapan masyarakat atau belum sama sekali. Namun perlu didasari, tidak semua gosip itu sendiri merupakan bentuk pengendalian sosial. HANYA GOSIP yang membicarakan penyimpangan sosial dapat menjadi pengendalian sosial.[7]
Cara reaksi orang yang dilanda gosip adalah menghentikan gosip tersebut dengan mengoreksi perilaku. Misalnya ada orang yang digosipkan sebagai anak yang kurang pergaulan / komunikasi. Maka mereka harus memperbaiki diri mereka untuk bisa berkomunikasi dengan baik. Orang yang paham dan peka terhadap ini akan menjadi orang yang dapat mengendalikan dan mengubah perilaku yang tidak baik menjadi baik.
2. Teguran
Teguran adalah kritik yang diberikan seseorang kepada orang lain sehubungan dengan perilakunya yang diberikan. Kritik ini sendiri bersifat membangun karena bertujuan agar seseorang dapat memperbaiki perilakunya. Teguran sendiri sangat penting dan berguna dalam mengendalikan pelanggaran-pelanggaran ringan. Berbeda dengan gosip. Teguran bersifat lebih disampaikan secara langsung dan terbuka.[8]
Teguran sendiri akan sangat lebih efektif dalam mengendalikan situasi yang tidak tertib. Namun, kadang-kadang teguran diabaikan, terutama jika orang yang menegur memiliki legitimasi yang kurang di mata orang yang ditegur. Dalam kondisi formal, maka teguran tersebut diabaikan, bahkan cara pengendalian dari sebuah teguran bisa ditingkatkan menjadi hukuman.[9]
3. Pemberiaan Penghargaan dan Hukuman
Penghargaan adalah diberikan kepada siswa maupun orang yang melakukan perbuatan baik atau berprestasi, sedangkan hukuman sendiri adalah diberikan kepada seseorang yang berbuat diluar ketentuan atau melakukan kesalahan. Penghargaan yang paling sederhana adalah berupa kata-kata atau pujian-pujian atau isyarat jempol. Dalam situasi formal, penghargaan diwujudkan dengan piagam, sertifikat, surat keputusan, atau piala. Dalam hukuman pun bisa berupa perkara yang ringan hingga berat. Misalnya jika seseorang tidak mengerjakan PR, maka dihukum di lapangan. Hukuman yang berat dapat bersifat formal yang dijatuhkan dalam pengadilan hukum kepada para penjahat.[10]
Baik penghargaan maupun hukuman tujuannya adalah mengendalikan perilaku seseorang agar tidak melanggar tata nilai dan norma sosial. Penghargaan dapat membuat pelakunya mengulangi perbuatan baik. Namun dalam hukuman membuat perilaku penyimpangan sadar dan jera akan kesalahannya dan diharapkan tidak diulangi lagi.[11]
4. Pendidikan
Dalam pengendalian sosial sendiri dapat berupa pendidikan. Dimana pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dalam konteks ini sendiri, pendidikan adalah proses pendewasaan anak. Melalui pendidikan, seorang anak dikenalkan, dibiasakan, dan dituntun untuk patuh kepada berbagai nilai dan norma sosial yang ada di masyarakat. Sehingga nilai dan norma itu sendiri ditanamkan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada seorang anak melalui pendidikan. Disinilah salah satu hal penting dalam pengendalian sosial, dimana pengendalian sosial dapat dilakukan dalam pendidikan.[12]
![]() |
Keluarga Bahagia © Keluarga / Victoria Borodinova / Pexels |
Pendidikan juga bagian dalam proses pengubahan sikap dan tata kelakuan seseorang atau kelompok orang diusahakan, mendewasakan manusia, melakukan upaya pengajaran dan pelatihan, atau proses, pembuatan dan cara mendidik. Contoh, Pendidikan moral, pendidikan keagamaan, pendidikan kesehatan, pendidikan kehidupan.[13]
5. Keagamaan
Agama adalah sistem dan prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran kebaktian dan berkewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan kewajiban itu. Dalam agama terdapat aturan dan sanksi yang mengikat pemeluknya. Orang yang melanggar aturan agama dianggap berdoa dan disebut sebagai pendosa. Sehingga pendosa sendiri dapat dihukum baik di dunia maupun dunia yang akan datang. Sehingga dalam hal ini, keagamaan penting untuk mengendalikan seseorang agar dapat mereka taat terhadap kepercayaannya.[14]
6. Pengucilan
Pengucilan atau mengucilkan adalah membuat serta mengeluarkan seseorang dari lingkungan (baik itu keluarga, komunitas, masyarakat, warga pedesaan). Orang yang dikucilkan sendiri adalah orang yang telah dibuang dari kelompoknya. Contoh adalah seorang anak lelaki mengalami kelainan seks dan ingin berubah jenis kelamin. Maka ditentang keluarga dan dikucilkan oleh orang tuanya.[15] Sehingga salah satu pengendalian sosial yang cukup keras adalah pengucilan terhadap seseorang.
Kesimpulan
Berbagai bentuk-bentuk pengendalian sosial memang sangat penting untuk kehidupan manusia. Dimana pengendalian sosial ini sendiri adalah pencegahan terhadap terjadinya penyimpangan sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia. Bentuk-bentuk pengendalian ini sangat penting agar kehidupan manusia bisa berjalan sangat tertib. Ketika seseorang berjalan sangat tertib, maka orang tersebut dapat mengendalikan diri untuk mengarahkan diri terhadap sikap hidup yang baik, taat dan tertib. Kehidupan yang ini sangat diharapkan menjadi semakin tertib dan bisa memajukan kehidupan masyarakat.
Daftar Pustaka :
Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto(Editor), Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta : Prenada Media Group, 2019), 118, 130
Elisanti dan Titin Rostini, Sosiologi 1 : untuk SMA / MA Kelas X, (Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan, 2009), 114-115
Suhardi dan Sri Sunarti, Sosiologi 1 : Untuk SMA/MA Kelas X Program IPS, (Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2005), 144 - 147
----
[1] Suhardi dan Sri Sunarti, Sosiologi 1 : Untuk SMA/MA Kelas X Program IPS, (Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2005), 144
[2] Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto(Editor), Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta : Prenada Media Group, 2019), 118
[3] Ibid, 130
[4] Ibid, 130
[5] Ibid, 130
[6] Suhardi dan Sri Sunarti, Sosiologi 1 : Untuk SMA/MA Kelas X Program IPS, (Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2005), 145
[7] Ibid, 145
[8] Ibid, 146
[9] Ibid, 146
[10] Ibid, 146
[11] Ibid, 146 - 147
[12] Ibid, 147
[13] Elisanti dan Titin Rostini, Sosiologi 1 : untuk SMA / MA Kelas X, (Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan, 2009), 114
[14] Ibid, 114 - 115
[15] Ibid, 115
Tinggalkan Komentar di bawah ini
EmoticonEmoticon