Friday, April 24, 2020

Bentuk-Bentuk dari Interaksi Sosial Beserta Contoh-Contohnya

Setelah kita membahas banyak sekali mengenai interaksi sosial. Baik itu dalam pengertian dan syarat-syarat terjadinya suatu interkasi sosial. Baik itu secara hubungan timbal balik manusia ataupun interaksi yang terjadi di dalam masyarakat. Bahkan dalam interaksi sosial sendiri terdapat beberapa bentuk-bentuk interaksi sosial yang mungkin bisa menjadi pertimbangan baik kita. Kita bisa melihat secara positif maupun negatif.

Bagian dari Interaksi Sosial
Berikut dalam artikel ini akan mencoba membahas mengenai bentuk-bentuk dari interaksi sosial beserta dengan contoh-contoh. Silahkan menyimak untuk dibaca.

Pengertian Interaksi Sosial

Interaksi Sosial adalah hubungan sosial yang terjadi scara dinamis yang menyangkut hubungan dari antara orang perseorangan, ataupun perorangan dengan kelompok, ataupun kelompok dengan kelompok yang menengahi hubungan ini. Sehingga dalam hal ini terjadinya hubungan dan interaksi antar manusia. Sehingga interaksi sosial dan aktivitas sosial.

Bentuk-Bentuk dari Interaksi Sosial

Pada dasarnya bentuk-bentuk interaksi sosial pada umumnya kita mengerti seperti kerja sama, persaingan, dan juga pertentangan maupun pertikaian. Namun jauh lebih dari pada itu, jelas dalam suatu pertikaian dan juga pertentangan akan dapat diselesaikan jikalau ada penyelesaian. Ini merupakan contoh daitas mungkin adalah contoh awal dari bentuk-bentuk interaksi sosial.

Beberapa pendapat dari Sosiolog memiliki pandangan-pandangan mereka masing-masing ;
  • Gillin dan Gillin menjelaskan bahwa bentuk-bentuk interaksi sosial adalah : a. Proses yang asosiastif (akomodasi, asimilasi, dan akulturasi); b. proses yang disosiatif (persaingan dan pertentangan).
  • Kimball Young, mengatakan bahwa a. Oposisi (persaingan dan petentangan); b. kerja sama yang menghasilkan akmodasi; c. diferensiasi (tiap individu mempunyai hak dan kewajiban atas dasar perbedaan usia, seks, dan pekerjaan).
  • Tomatsu Shibutani, bentuk-bentuk interaksi adalah : a. akomodasi, dalam situasi rutin; b. ekspresi pertemuan dan anjuran; c. interaksi strategis dalam pertentangan; d. pengembangan perilaku massa.


Namun karena kita lebih mengenai hal yang berkaitan dengan bentuk-bentuk interaksi yaitu, dalam proses-proses asosiatif, dan proses-proses disosiatif.

A. Proses Asosiatif dan Keteraturan Sosial

Interaksi sosial dalam proses asosiatif adalah bentuk interaksi sosial positif yang mengarah pada kesatuan, kerja sama, dan juga keteraturan sosial. Oleh sebab itu kadang dalam proses asosiatif sendiri dapat dikaitkan dengan keteraturan sosial. Keteraturan sosial dapat terwujud jika setiap anggota masyarakat bertingkah laku sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Contoh-contoh dari proses asosiatif :
Proses Kerjaasama Interaksi Sosial Proses Asosiatif
© tugassekolah.co.id

1. Kerja Sama (Cooperation)
Kerja sama adalah salah satu bentuk interaksi yang pokok dalam proses asosiatif. Beberapa sosiolog menganggap bahwa kerja samalah yang merupakan proses utama. Kerjasama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia yang mencapai satu atau beberapa tujuan secara bersama.

2. Akomodasi (Accomodation)
Istilah akomodasi sendirir dapat dipergunakan dalam dua arti, yaitu proses yang menunjuk suatu keadaan atau suatu yang menunjuk pada suatu proses. Di dalam proses keadaan, maka berarti akomodasi adalah penyesuaian keseimbangan dalam interaksi sosial antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia. Sedangkan sebagai suatu proses menunjuk suatu proses akomodasi pada usaha-usaha manusia agar meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha untuk mencapai kestabilan.

3. Asimilasi (Assimilation)
Asimilasi merupakan proses sosial yang merupakan taraf lanjut / waktu yang cukup lama. Asimilasi ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam interkasi sosial, dan di saat yan bersamaan, usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan. Dimana dalam suatu interkasi sosial mempunyai kebudayaan berbeda. Jangka waktu lama membuat kedua masyarakat saling menyesuaikan diri. Lambat-laun kebudayaan asli mereka membaur, sehingga terbentuk kebudayaan baru.

4. Akulturasi
Akulturasi hampir sama dengan asimilasi. Perbedaannya, peleburan kebudayaan dua masyarakat di dalam akulturasi tidak menimbulkan hilangnya kepribadian asli kedua masyarakat itu. Unsur-unsur tertentu saja yang melebur. Unsur itu menjadi bagian kebudayaan yang menyerapnya, tanpa mengubah ciri-ciri masyarakat yang bersangkutan.


Selain adanya 4 contoh-contoh diatas, ada beberapa dibawah ini adalah


5. Dekulturasi
Dekulturasi adalah hilangnya kebudayaan suatu kelompok akibat interaksi antar kelompok sosial.

6. Dominasi
Dominasi adalah interaksi sosial dalam bentuk suatu kelompok menguasai kelompok lain.

7. Paternalisme
Paternalisme adalah penguasaan kelompok pendatang terhadap kelompok pribumi. Adanya sisi positif jika yang dikuasai adalah sisi positif.

8. Diskriminasi
Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan di dalam interaksi sosial yang terjadi di dalam orang-orang atau golongan-golongan tertentu.

9. Integrasi dan Pluralisme
Integrasi dan pluralisme adalah dua pola interaksi sosial yang memiliki banyak persamaan. Integrasi sosial mengakui perbedaan ras di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berasal dari ras (suku bangsa) berbeda dengan tujuannya untuk dapat hidup bersama secara rukun dan damai.  Sedangkan dalam pluralisme adalah hubungan antarkelompok sosial yang mengakui persamaan hak politik dan hak perdata semua warga masyarakat.

B. Proses Disosiatif dan Konflik Sosial

Dalam proses disosiatif sendiri lebih mengarah pada perpecahan dan konflik sosial yang terjadi di interaksi sosial. Baik individu maupun kelompok-kelompok di dalamnya. Proses disosiatif sendiri mengarah pada proses oposisi. Bahkan oposisi terjadi saat kekuasaan yang mendominan dikuasai oleh kelompok / individu.
Interaksi Sosial Proses Disosiatif
© duniapendidikan.co.id
Keinginan dan kehendak yang kuat dari suatu individu maupun kelompok seringkali ditandai dengan gesekan antar kelompok itu sendiri. Sehingga menimbulkan hal-hal yang negatif di dalamnya. Beberapa proses disosiatif antara lain adalah kompetisi, kontravensi, dan konflik sosial.

1. Persaingan / Kompetensi (Competition)
Persaingan merupakan proses sosial yang ditandai adanya saling berlomba atau bersaing antar-individu atau antar-kelompok tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan untuk mengejar suatu nilai tertentu agar lebih maju, lebih baik, lebih kuat atau lebih untung. Sehingga usaha ini dari kelompok / individu ini jauh lebih besar agar memperoleh keuntungan yang besar.

2. Kontravensi
Salah satu bagian dari disosiatif yang adalah suatu bentuk proses sosial yang berada di persimpangan antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Kontravensi terutama ditandai oleh gejala-gejala adanya ketidakpastian mengenai diri seseorang maupun sautu rencana yang ada. Sehingga menimpulkan perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian, atau keragu-raguan terhadap pribadi seseorang.

3. Pertikaian, 
Merupakan lanjutan dari kontravensi. Tetapi lebih bersifat terbuka, bahkan jikalau terjadi banyak sekali perbedaan-perbedaan tajam, Di dalam pertikaian, baik individu maupun kelompok menentang pihak lain dengan cara ancaman atau kekerasan.

4. Permusuhan atau Konflik
Ketika pribadi maupun kelompok menyadari adanya perbedaan-perbedaan yang mencolok. Bahkan perbedaan itu mempertajam perbedaan bahkan hingga menjadi suatu pertentangan atau pertikaian Dimana perasan untuk memegang peranan penting dalam mempertajam perbedaan-perbedaan hingga pihak-pihak tersebut berusaha untuk saling menghancurkan.

Konflik adalah proses sosial perorangan atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuan dengan cara menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman atau kekerasan.

Kesimpulan

Sehingga dalam interaksi sosial jelas tidak akan manusia yang tidak berinteraksi satu dengan lain. Bentuk sederhana dari interaksi sosial adalah kerjasama antara manusia, individu, maupun kelompok. Namun dalam bentuk-bentuk lainnya, maka akan dapat dibedakan menjadi dua, yakni proses asosiatif dan disosiatif. Asosiatif lebih bersifat positif, sedangkan disosiatif lebih bersifat negatif.

Sumber :
  • Joko Sri Sukardi dan Arif Rohman, 2009, Sosiologi untuk SMA Kelas x,  Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan,  Hlm. 60 - 65
  • Soerjono Soekanto dan Budi Sulistyowati, 2017, Sosiologi suatu Pengantar edisi Revisi, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Hlm. Hlm.65 - 96
  • Suhardi dan Sri Sunarti,  2009,  Sosiologi 1 : Untuk SMA/MA Kelas X Program IPS,  Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Hlm. 76 - 88
  • https://www.zonareferensi.com/bentuk-bentuk-interaksi-sosial/  Diakses pada 24 April 2020 pukul 08:07.

Tinggalkan Komentar di bawah ini
EmoticonEmoticon