Wednesday, June 21, 2017

Pengertian dan Produk-Produk Bioteknologi Konvensional

Masih ingat akan postingan yang berjudul Bioteknologi? Pasti kalian akan mengerti apa itu sejarah singkat bioteknologi, macam-macam bioteknologi, hingga hal-hal yang lainnya mengenai bioteknologi. Namun apakah kalian mengetahui pengertian dari bioteknologi konvensional beserta produk-produk yang dibikinnya?

Bioteknologi Konvensional sendiri merupakan bioteknologi sederhana yang sering diterapkan dalam kehidupan, mulai dari pembuatan tempe tahu, dan yoghurt? Mungkin kalian akan mengenal bioteknologi konvensional yang satu ini melalui post yang akan saya tulis di artikel berikut.

  

Pengertian Bioteknologi Konvensional

Sebelum kalian membaca artikel ini, pasti kalian telah membaca macam-macam bioteknologi yang saya paparkan di artikel sebelumnya, kali ini saya akan memberikan pernyataan serupa mengenai biotkenologi konvensional atau bisa dibilang bioteknologi tradisional dimana produk-produknya menggunakan jasa para mikroorganisme. Sehingga pengertiannya secara sederhana teknik biologi yang menggunakan jasa dan peran para mikroorganisme yang menghasilkan jamur dan bakteri. Mikroorganisme ini sendiri menghasilkan berbagai enzim terntentu untuk melakukan metabolisme sehingga menghasilkan produk yang diinginkan.

Bioteknologi Konvensional / Tradisional

Bioteknologi tradisional ini terjadi saat cara kuno maupun tradisi lama dalam penggunaan organisme hidup. Walaupun jaman saat itu belum terdapat berbagai pengertahuan tentang pasti mengapa menghasilkan suatu produk. misalnya dalam pembuatan roti, dan fermentasi anggur.Sehingga manusia sendiri belum dapat mendefinisikan secara ilmiah darimana datangnya mikroorganisme penghasil roti maupun anggur itu.
 

Produk-Produk Bioteknologi Konvensional

Sesuai dengan tujuan penulisan artikel ini, maka saya akan memaparkan hasil dari produk-produk bioteknologi konvensional beserta jenis mikroorganisme yang digunakan untuk menghasilkan bioteknologi ini. Produk-produk inipun merupakan hasil metabolisme mikroorganisme yang menghasilkan suatu produk pangan bagi kelangsungan kehidupan manusia.

1. Tempe

Adakah pembaca disini suka memakan tempe? Pasti senang dong yang namanya tempe goreng. Namun tahukah makanan yang diolah dari kedelai ini dibantu oleh mikroorganisme loh. Wah menarik bukan? Mari kita simak lebih dalam.

Tempe merupakan lauk pauk bagi masyarakat Indonesia yang terkenal murah dan berprotein tinggi. Tempe ini sendiri diolah menggunakan ragi tempe dengan bantuan jamur-jamur dari genus Rhizoporus, misalnya R. oligosporus, R. stoloniferus, dan R. oryzae.Jamur-jamur ini sendiri menghasilkan enzim protease dan enzim lipase yang cocok bagi tubuh manusia.

Tempe sendiri pembuatannya tergolong gampang-gampang susah, namun perlu banyak pengawasan dan takaran ragi yang pass agar tempe tidak cepat membusuk atau tidak cepat matang. Oleh sebab itu memang mudah, namun perlu pengawasan dan kontrol yang benar.

2. Roti

Kalian tahukah kapan roti pertama ada? Memang masyarakat pada masa yang sangat lampau sering membuat roti dalam berbagai acara, baik itu ibadah maupun makan-makan besar. Tapi apakah kalian mengerti darimana roti ini terbentuk?

Roti merupakan salah satu makanan yang terbuat dari tepung terigu. Sehinga teknik yang diperlukan ialah fermentasi di dalamnya. Sehingga tepung terigu sendiri diolah menjadi adonan roti. Lalu jangan lupa dalam adonan tersebut agar mengembang diberi ragi roti ayang mengandung jamur Saccharomyces cerevisiae. Jamur ini sendiri membuat roti mengembang dikarenakan jamur sendiri dapat memproduksi karbondioksida yang kemudian terperangkap di dalam adonan roti sehingga roti dapat mengembang.

3. Nata de Coco

Pernahkah memakan nata de coco? Makanan yang kenyal ini cukup menarik perhatian anak-anak untuk mekanannya, namun tahukah bahwa Nata de coco juga merupakan produk dari Bioteknologi Konvensional?

Nata de Coco atau sari kelapa kenyal merupakan produk bioteknologi konvensional yang menggunakan bakteri Acetobacter xylinum. Bakteri ini sangat unik karena dapat merubah gula dan fruktosa dalam sari-sari tersebut menjadi selulosa  yang kenyal dan padat. Penggunaan bakteri ini sendiri dapat ditemukan jika kita mengolah buah nanas agar mendapatkan bakteri ini dengan mudah. Bateri ini sendiri dapat digunakan untuk membuat sari lainnya, misalnya sari nanas (nata de pineapple), sari kedelai (nata de soya), sari biji kakao (nata de cacao), maupun sari lainnya sehingga bakteri ini sering disebut bakteri biji nata "nata de". Jika kalian malas membuat bakteri ini cukup beli dipasar.
  

4. Yoghurt

Pernah mencoba yoghurt? Pasti sebagian kita pernah merasakan manisnya fermentasi susu ini. Namun bagaimana bioteknologi konvensional ini bekerja pada yoghurt?

yoghurt sendiri merupakan makanan camilan yang sering dimaakan anak-anak. Susu yang difermentasi ini dibantu oleh bakteri Streptococcus thermophillus dan Lactobasilus bulgaricus. Penggunaan bakteri ini yang mendorong fementasi berubah menjadi asam laknat. Namun sebelumnya susu harus dipasteurisasi hingga menjadi dadihan. ketika menjadi dadihan ini dikumpulkan menjadi satu dan berubahlah jadi yoghurt.

5. Wine (Minuman Anggur)

Pernahkah mencoba atau mengincipi wine? Mungkin kalian pernah merasakan minuman beralkohol yang satu ini yang sudah ada sejak jaman  dulu, bahkan saat pun tetap dilakukan pembuatannya.
 
Wine sendiri dibantu oleh mikroorganisne dalam proses pembuatannya dengan jamur Aspergilus dan Saccharomyces cerevisiae. Dalam prosesnya sendiri dipnegaruhi oleh buah anggur, penyimpanan, lamanya fermentasi, dan cara penyimpanannya. Sehingga akan mepengaruhi kadar keasaman dan aromatik organiknya. Sekdar info, wine sendiri memiliki kadar alkohol yang cukup tinggi, yakni sekitar 10-15%.

6. Keju 

Siapakah yang suka keju? Pasti sebagian besar menyukai produk olahan dari fermentasi susu ini, namun tahukah bahwa Keju ini sudah ada sejak zaman romawi maupun Yunani kuno. Sungguh luar biasa hingga pengolahannya telah ada sampai sekarang.

Keju sendiri dalam menfermentasikan susu dibantu oleh bakteri asam laktat, seperti Pripioni bacterium (untuk keju keras), Penicilium roqueforti (untuk keju setengah lunak), dan Penicilium camemberti (untuk keju keras). Mikroba ini sendiri mengubah laktosa menjadi asam laknat yang menggumpal dan padat.

7. Oncom

Ada yang suka makan oncom disini? Semoga kalian suka akan oncom, namun juga suka akan informasi yang saya beberkan dibawah. Oncom sendiri merupakan makanan yang telah ada sejak jaman nenek moyang kita. Namun tahukah bahwa oncom sendiri terbuat dari ampas tahu dan bungkil kacang tanah?
   
Oncom yang dibuat dari ampas tahu difementasikan dengan jamur Neurospora sitophila. Jamur ini sendiri membantu sebagai pewarna sekaligus menghasilkan enzim amilase, lipase, dan protase. Sehingga menjadi lunak dan empuk. sedangkan dari Oncom buatan bungkil tanah menggunakan jamur Rhizopus oliogosporus.
 

8. Tapai

Pernah mencoba makan tapai? Pasti sudah pernah memakannya atau mengincipi camilan tradisional ini. Namun tahu kah bahwa tapai sendiri juga merupakan produk dari bioteknologi konvensional?

Tapai dibuat dari fermentasi ketan, singkong, atau pisang dengan bantuan jamur Saccharoyces cerevisiae. Jamur sendiri ini melakukan hidrolisis karbohidrat dalam kondisi anaerob merubah glukosa di dalamnya menjadi asam asetat, energi, alkohol, dan karbondioksida.

Dibuat melalui fermentasi ketan atau singkong menggunakan jamur Saccharoyces cerevisiae. Jamur ini merubah glukosa pada bahan menjadi asam asetat, energi, alkohol dan karbondioksida.
 

9. Tauco

Pernahkah mencoba tauco? Pasti kalian pernah mencobanya iyakan? Salah satu pelezat untuk lumpia ini sangat enak dinikmati bersama. Namun tahukah bahwa tauco ini juga merupakan produk dari bioteknologi konvensional?
Tauco merupakan fementasi dari biji kedelai yang dibantu oleh 2 mikroorganisme berbeda, yakni jamur dan bakteri. Jamur disini menggunakan Aspergillus oryzae dan Rhizopus oligosporus yang dibuat seolah-olah mirip pembuatan tempe, namun fementasi berikutnya menggunakan bakteri-bakteri yakni Laktobacillus delbruckii, Hansenulla sp., dan Zygosaccharomyces soyae yang tahan terhadap kondisi salinitas tinggi.
 

10. Yakult

Pernahkah melihat iklan maupun produk dari yakult? Ya pasti kita pernah mencoba atau minum minuman yang terkenal dengan bakteri baiknya ini merupakan produk bioteknologi. Penemuan dari Dr. Minoru Shirota telah membentuk konsep dan pandangan mengenai fementasi susu yang bisa diminum.
  
Yakult sendiri berasal dari bakteri Lactobacillus casei yang telah dikembangkan beliau berdasarkan berbagai percobaannya. Namun di era saat ini pembuatan sederhanannya cukup mudah dimana kita membeli susu UHT dan mencampurnya dengan yakult yang siap diminum. Fementasinya pun tergantung pada lama dan kandungan yakult yang dibuat.

Kesimpulan

Oleh karena bioteknologi konvensional telah dikenal lama dan terus berkembang seiring perkembangan jaman, maka bioteknologi ini sendiri merupakan teknik yang paling mudah sekaligus menghasilkan berbagai bentuk olahan pangan di era saat ini. Dengan bantuan mikroorganisme dalam pembuatannya, tidak menutup kemungkinan akan menghasilkan produk baru di masa depan. Untuk melihat produk-produk lainnya bisa kalian buka sumber di bawah ini.
 
Sumber + Gambar

Tinggalkan Komentar di bawah ini
EmoticonEmoticon

:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)